Judul : Stay With Me
Genre : Romance, School+Marriage Life
Rating : PG 16
Lenght : TwoShoot
Main Cast : Ooh Sehun || Choi Hena
Other Cast : Kim Hyura || EXO member - Kai (bukan member EXO)
••
HaiHai..
Akhirnya setelah sekian lama FF ini terkubur di hp author, sekarang bisa di posting.
Berhubung ini postingan pertama, tolong dimengerti kalau banyak kekurangan dalam bentuk apapun(:
Warning!!!
Typo(s) bertebaran.
Jika ada kesamaan alur, tokoh atau apapun, hanyalah kebetulan semata*lebay* :v
Ff ini murni dari pikiran author.
Don't BASH - Don't Plagiarism.
Don't Like ? Don't Read.
Don't be silent reader :*
HAPPY READING :*
••
*Hena p.o.v*
Tahun ini benar-benar tahun yang penuh dengan mimpi buruk. Pertama, aku akan segera melaksanakan ujian kelulusan SMA. Kedua, aku harus melakukan tes untuk melanjutkan sekolah di Universitas pilihan eomma dan appa. Dan ketiga, eomma dan appa menjodohkanku dengan anak sahabatnya. Apa ada yang lebih buruk dari ini? Ah ya! Aku sama sekali tidak mengenal pria beruntung yang akan menikah denganku.
Perkataan appa malam itu benar-benar seperti bom yang membuat pikiranku meledak saat itu juga. "Choi Hena, appa dan eomma menjodohkanmu dengan anak dari sahabat kami. Malam sabtu nanti kita akan makan malam bersama"
Dan sialnya, aku tidak bisa menolak rencana gila itu. Bagaimana bisa? Appa akan mengirimku ke LA lagi kalau saja aku menolak perjodohan ini. Sudah cukup saat SMP aku bersekolah di sana, benar-benar membosankan.
"Henaaaa, cepatlah. Bisa-bisa kita terlambat" suara teriakan eomma membuyarkan lamunanku. "Nee, sebentar lagi eomma" sahutku. Haish! Haruskah pertemuan makan malam hari ini dilakukan? Aku bahkan sangat malas untuk keluar menggunakan dress biru yang penuh dengan gliter ini. Kalau saja appa tidak mengancamku, aku tidak akan mau mengikuti tradisi kuno seperti ini.
˚HanyangHotel˚
Aku, eomma dan appa sampai di Hotel Hanyang untuk makan malam dengan keluarga calon suamiku. Apa? Ya, baiklah sebut saja calon suami.
Aku melihat seorang pria dan seorang wanita yang kuyakini adalah calon mertuaku. Tapi, dimana laki-laki beruntung itu?
"Choi Hena? Wahh, liat calon menantu kita appa, sangat cantik". "Ya,Tidak salah kita menjodohkan Sehun dengannya" begitulah kedua calon mertuaku menyambutku. Dengan pujian yang sayangnya tidak membuat moodku malam ini membaik. But waittt... Sehun? Oh Sehun? I hope not Sehun I mean.
"Annyeonghaseyo. Choi Hena imnida" kataku sambil membungkuk 90° kepada kedua calon mertuaku. Calon mertua? Ah yaa, anggaplah begitu. Stelah itu aku duduk bersama mereka.
"Dimana Sehun?" appa bertanya pada mereka. Entahlah, setiap aku mendengar nama Sehun, perasaanku tidak enak.
"Tadi dia kebelakang, sepertinya seben... Ah itu dia" ibu mertuaku, ah calon ibu mertuaku menunjuk ke arah seorang pria yang sedang berjalan ke tempat kami.
Sepertinya aku mengenal pria itu. Itu seperti.... Sehun? Oh Sehun? Ah andwae!! Jadi calon suamiku adalah Oh Sehun? Perasaanku memang sudah sangat tidak enak saat mendengar nama Sehun tadi. Ottoke? Aku dan Sehun satu sekolah, bahkan satu kelas sejak kelas 1 SMA. Dia sangat populer, bagaimana tidak, pekerjaannya sendiri sebagai idol. Aahh aku tidak pernah berpikir akan menikah dengannya.
"Choi Hena?" Sehun sedikit memiringkan kepalanya agar dapat lebih jelas melihat wajahku.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" eomma bertanya pada Sehun.
"Ah, annyeonghaseyo. Oh Sehun imnida. Iya kami dalam kelas yang sama" jawab Sehun lalu duduk bersama kami. Ahh, aku benar-benar tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Wah baguslah, pernikahannya bisa kita percepat menjadi minggu depan. Kalau begitu, kita makan dulu" mwo? Apa semua orang disini tidak memikirkanku? Aku ini masih SMA dan mempunyai cita-citaaaa!!!
Setelah makan, aku pamit untuk keluar sebentar. Aku benar-benar tidak bisa mempercayai takdir gila ini. Aku ? Dan Oh Sehun? Ralat perkataanku bahwa calon suamiku orang beruntung karna akan menikah denganku. Sepertinya aku yang beruntung dapat menikah dengannya. Tapi tetap saja...
Aku dan Sehun satu kelas sejak kelas 1 SMA. Dan Sehun memiliki banyak penggemar khususnya di kalangan perempuan, termasuk aku. Aku dulu sangat menyukai Sehun. Wajar saja, dia adalah member EXO, boyband terkenal di dunia rasaku. Tapi aku mulai melepas diri darinya saat akuu dibuat malu oleh kekasihnya dulu Im Hyura.
Aku mengirimkan Sehun surat saat kelas 2. Sebagai fans ku rasa itu wajar saja. Lagi pula banyak yang melakukan itu. Tapi entah kenapa kekasihnya sangat ingin membuatku malu. Dia membacakan suratku itu didepan teman satu kelas. Dan Sehun? Dia bahkan tidak melirikku. Hah, bahkan untuk sekedar mengingat momen itu saja aku merasa jijik.
"Apa yang kau pikirkan?" Sehun tiba-tiba muncul dan membuatku terkejut.
"Privasi" aku tidak tertarik berbicara dengannya sekarang. Tidak, lebih tepatnya menghindar dari pembicaraan.
"Aku yakin kau sangat senang dapat menikah denganku kan?" apa ini... Dia benar-benar sangat percaya diri. Walaupun yang dia katakan tidak salah. Tapi senyumnya itu.. Senyum meremehkan. Aku tau dia tidak menyukai perjodohan ini.
••
1 week later.
Hari ini aku sudah resmi menjadi seorang istri. Istri dari Oh Sehun. Jadi apa sekarang namaku berganti menjadi Oh Hena? Haha untuk menyebutnya saja aku geli. Tidak, nama ku tetap Choi Hena. Lagi pula pernikahan ini tidak didasari oleh cinta.
Aku dan Sehun pindah ke apartement yang diberikan oleh ayah Sehun sebagai hadiah pernikahan. Apartement yang cukup luas untuk hanya ditempati oleh dua orang. Dan bagusnya apartement ini mempunyai 2 kamar. Sebenarnya kamar yang satunya untuk kamar tamu. Tapi ukurannya lumayan besar, bahkan hanya berbeda sekitar 30 centi dari kamar yang seharusnya aku dan Sehun tempati. Lebih baik aku menempati kamar itu.
Aku masuk ke dalam kamarku dan segera mandi. Setelah itu aku membuat makan malam untuk ku dan juga Sehun. Yaa, aku harus menganggapnya manusia juga kan?
"Oh Sehuuun, keluarlah. Aku sudah membuat makan" kataku sambil mengetuk pintu kamarnya.
"Lain kali jangan lakukan. Kau tidak perlu seperti ini" dia membuka pintu. Lalu berjalan ke ruang makan tanpa memandangku.
Aku tau akan seperti ini. Dia memang tidak pernah memandangku. Ini juga salah satu alasan aku berhenti menyukainya. Dan sialnya, saat hanya tinggal 1 tahap untuk bisa benar-benar melepasnya, aku malah terjebak dalam drama menjijikkan seperti ini.
*Author p.o.v*
Hena dan Sehun makan bersama dalam diam. Terlalu canggung bagi mereka untuk melakukan percakapan setelah apa yang di lontarkan Sehun pada Hena tadi. Hena mempercepat makannya dan segera masuk ke dalam kamar meninggalkan Sehun.
Ini terlalu berat untuk Hena. Belum 24 jam dia tinggal dalam atap yang sama dengan Sehun, tetapi perasaannya mulai kembali. Sedangkan Sehun, tetap bertahan dengan sikap dinginnya.
Hena tau Sehun masih menjalin hubungan dengan Im Hyura, dia juga berada dalam kelas yang sama dengan Sehun dan Hena. Yaa, tahun ini benar-benar puncak dari kesialannya.
••
2 month later.
~kringgg~
Tepat pukul 05.00 alarm Hena menggema ke seluruh isi kamar. Tidak butuh waktu lama, dia segera bangkit dari kasurnya dan beralih memasuki kamar mandi. Hampir 20 menit dia menghabiskan waktu di dalam sana.
Saat jam menunjukkan pukul 06.40, Hena sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Dia keluar dari kamar danmendapati ruang makan yang kosong. Terdengar suara berisik dari dapur. Hena segera berjalan menuju dapur dan matanya membentuk bulatan sempurna saat melihat apa yang ada di depannya.
Pria yang sudah resmi menjadi suaminya 2 bulan yang lalu, sekarang sedang bermesraan dengan wanita yang dia kenal. Im Hyura. Sehun yang sedang memasak sesuatu dipeluk oleh Hyura dari belakang.
Ya begitulah rumah tangga mereka. Sehun masih saja menjalin hubungan dengan Hyura. Hena membenci itu, tapi dia tau bahwa dari awal Sehun memang tidak menyukainya, jadi dia hanya bisa diam membiarkan.
Sehun menyadari kehadiran Hena. Dia hanya mematung dan tidak berbuat apa-apa. Bahkan Hyura memamerkan senyum liciknya. Hena segera meninggalkan mereka berdua.
••
°Seoul High School°
Hena memasuki kelas dengan langkah yang lemah. Segera dia duduk di sebelah Kai, orang yang sudah tau lebih dari setengah perjalanan hidupnya. Kai adalah sahabat Hena sejak kelas 3 Sekolah Dasar. Di sandarkan kepalanya di pundak Kai.
"Ada apa lagi sekarang?" tanya Kai.
"Ani. Hanya saja.. Apa kau tau? Aku sebenarnya sudah menikah"
Kai yang tadi sedang sibuk dengan buku didepannya segera memalingkan fokusnya pada Hena. Dia terkejut mendengar perkataan Hena barusan.
"Apa yang kau katakan? Kau menikah dengan siapa?" tanya Kai.
"Yak! Pelankan suaramu. Hanya kau yang tau mengenai hal ini" Hena memukul kepala Kai dengan pulpen.
"Oh Sehun. Aku menikah dengan Oh Sehun. Sudah sejak 2 bulan yang lalu" Hena kembali lemas. Dia merebahkan wajahnya di atas meja.
"..."
Tidak ada jawaban dari Kai. Sedetik kemudian dia tertawa dengan kencang. Ternyata Kai menganggap Hena sedang bercanda.
"Mengapa kau tertawa?" tanya Hena.
"Aku tau kau menyukainya. Tapi kupikir kau sudah mulai move on? Lalu mengapa sekarang tiba-tiba berkhayal seperti itu?"
"Yak! Kim Jong In. Apa aku akan seperti ini saat bercanda?" Wajah Hena benar-benar serius bercampur sedih. Masih tergambar jelas wajah Sehun dan Hyura tadi.
"Jadi? Kau... 'Pletak' Bagaimana bisa kau baru memberitahuku sekarang?" sekarang gantian Kai yang memukul kepala Hena.
"Yak! Apheuda. Mau bagaimana lagi.. Pernikahan ini seharusnya dirahasiakan" jawab Hena sambil mengelus kepalanya yang sakit.
"Bahkan dariku?" bibir Kai berubah menjadi maju beberapa centi.
"Sekarang kau kan sudah kuberi tahu. Jangan membuatku tambah kesal"
"Baiklah. Lalu bukan seharusnya kau senang dan bahagia? Mimpimu untuk menikah dengannya terwujud" Kai kembali membaca buku didepannya.
"Aku bahkan menyesal pernah bermimpi seperti itu. Dan sekarang... Aku merasa sangat menyedihkan" Hena kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
"Hena-ya.."
"Ini memang sudah 2 bulan, tapi.. tadi pagi, aku melihatnya dengan Hyura sedang bermesraan didapur.. Lalu apa yang bisa kulakukan? Haha, aku hanya harus menerimanya kan? Lagi pula pernikahan ini hanya didasari perjodohan. Tapi, aku menyukainya.. Ani, aku mencintainya Kamjong-ah. Kau pasti sedang memandangku dengan tatapan kasihan sekarang. Aku tidak papa, aku hanya ingin berbagi padamu. Maaf" Hena menuangkan semua perasaannya pada Kai. Kai hanya bisa diam menatap lirih sahabatnya itu.
"Yak mengapa minta maaf? Keluarkan saja semuanya" Kai benar-benar sudah seperti kakak untuk Hena.
Hena masih dengan posisinya. Dia membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang diletakkan di atas meja. Sedangkan Kai dengan sabar terus mengelus rambut sahabatnya dengan lembut.
Tak lama kemudian, Sehun masuk kedalam kelas beriringan dengan Hyura. Kai melemparkan tatapan membunuh pada Sehun. Sehun tau bahwa Kai pasti sudah mengetahui pernikahannya dengan Hena, dia juga melihat Hena yang sedang merebahkan wajahnya.
Kai menggerakkan badan Hena dengan pelan agar Hena bangun.
"Hena, ayo bangun. Kita keluar" Kai menggandeng tangan Hena. Hena masih sempat melihat Sehun dan Hyura yang duduk berdua sebelum dia benar-benar di keluar dari kelas.
"Kita mau kemana? Bukankah sebentar lagi pelajaran dimulai?" tanya Hena.
"Semua guru akan rapat hingga jam 10 nanti. Jadi sebaiknya kita keluar dari kelas dulu" jawab Kai yang masih menggandeng tangan Hena.
"Tidak perlu seperti itu Kai. Aku tidak papa melihat mereka berdua" Hena memahami maksud sahabatnya itu.
Langkah Kai terhenti. Dia berbalik
menghadap Hena yang menunduk.
"Apa kau yakin?" tanyanya.
Hena hanya mengangguk tanpa memandang Kai.
Hena dan Kai kembali masuk kedalam kelas. Sehun memperhatikan keduanya yang masuk dengan saling bergandengan tangan. Sehun dan Hena saling bertatapan sebentar, lalu Hena memalingkan pandangannya.
Seorang wanita datang dan hendak duduk di sebelah Kai. Yaa, itu adalah tempat duduknya. Hena seharusnya duduk dibelakang Sehun. Namun melihat suasana hari ini, sepertinya mengerikan jika membiarkan Hena duduk dibelakang Sehun dan Hyura.
"Emm, bisakah kau bertukar tempat dengan Hena dulu?" tanya Kai.
Tentu saja wanita itu tidak menolak. Tidak akan ada yang menolak jika Kai yang memberi permintaan.
"Duduklah disini" kata Kai pada Hena.
"Gumawo. Entah aku akan seperti apa kalau kau tidak ada Kkamjong-ah" Hena memandang Kai.
"Yaa, kau sudah seperti adikku. Anggaplah begitu. Jadi kalau kau ada masalah, beritahu aku" Kai lalu mengelus rambut Hena.
Tanpa mereka sadari, Sehun terus memperhatikan kegiatan mereka berdua. Dia kesal melihat pemandangan didepannya itu.
~kring-kring~
Bel pulang sudah berbunyi. Sehun keluar kelas terlebih dulu dan di susul oleh Hena dan Kai.
"Aku akan menelpon Chanseo menyuruhnya pulang naik taksi. Kau pulang denganku eoh?" Kai merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya.
"Ani. Apa kau mau melihatnya menjambak habis rambutku? Aku akan naik bus" Hena merebut ponsel yang sudah ada di tangan Kai.
"Sepertinya bukan hal buruk, akan jadi tontonan yang seru" Kai tersenyum meledek.
"Ck. Kau mau mati? Aku heran mengapa yeojamu itu sangat tidak menyukaiku" Hena dan Kai jalan beriringan menuju gerbang sekolah.
"Dia bukan tidak menyukaimu. Dia hanya belum bisa menyukaimu" kata Kai.
"Itu sama saja" Hena memukul pelan pundak Kai.
"Haha.. Apa kau yakin akan pulang naik bus?" tanya Kai lagi sebelum dia masuk ke mobilnya.
"Eoh. Pulanglah" Hena mendorong Kau agar cepat masuk.
Mobil Kai perlahan bergerak meninggalkan Hena. Kai membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan.
••
Hena tiba dirumah dan mendapati keadaan rumah yang kosong. Tapi mobil Sehun terparkir rapi didepan rumah. Itu berarti Sehun ada dikamar.
Hena masuk di kamarnya dan langsung membersihkan badan. Lebih 30 menit dia memanjakan diri didalam bak yang sudah dipenuhi oleh aroma strawberry favoritnya. Setelah selesai, dia menuju dapur dan memasak makan malam untuknya dan Sehun. Ya, walaupun Sehun sudah membuatnya sakit, tapi tetap saja dia adalah seorang istri, dan juga tidak bisa dipungkiri bahwa dia mencintai Sehun.
Jadi sudah makan malam yang dibuat Hena. Piring dan alat makan lain juga sudah tersusun rapih di atas meja makan. Tapi, alat makan itu hanya untuk satu orang, hanya untuk Sehun. Dia lebih memilih makan di dalam kamar karna khawatir Sehun tidak akan senang kalau mereka makan bersama.
*tok-tok*
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Makanlah" Hena mengetuk kamar Sehun sekali dan langsung kembali ke kamarnya.
Tak lama setelah Hena pergi, kamar Sehun terbuka.
*Sehun p.o.v*
*tok-tok"
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Makanlah" setelah kejadian tadi pagi, dia bahkan masih membuatkan makan malam.
Aku keluar menuju ruang makan, tidak ada siapa-siapa di sana. Bahkan hanya ada satu perlengkapan makan di atas meja. Ke mana dia? Apa dia makan di kamar?
Jujur saja aku merasa bersalah pada Hena. Apa dia terus merasa sakit selama 2 bulan kita menikah ini? Aku tau bahwa Hena masih menyukaiku. Bahkan setelah kejadian yang mungkin memalukan baginya saat kelas 2, ternyata dia masih tetap menyukaiku.
Aku menunda makan ku dan berjalan menuju kamar Hena. Aku hanya ingin memastikan apa dia makan atau tidak. Dengan sangat pelan kuputar kenop pintu kamarnya dan bisa kulihat Hena sedang duduk dengan tenang dibalkon, dan juga makanan yang masih utuh didepannya. Mengapa makanannya masih utuh? Tidak, dia tidak sedang duduk tenang. Tapi dia duduk sambil tidur. Aish perempuan ini... apa yang dia pikirkan sebenarnya.
Tanpa dikomando kedua kakiku berjalan menuju tempat Hena sekarang. Kulihat wajah manisnya yang sedang terlelap, dia benar-benar cantik. Kulirik makanan yang ada didepannya, benar-benar belum disentuh. Apa yang harus kulakukan? Apa kubiarkan saja dia tidur di sini? Tidak.. apa ku bangunkan saja? Tapi kalau ku bangunkan dia akan bertanya mengapa aku sampai masuk ke kamarnya seperti ini. Tapi dia belum makan malam sama sekali kan? Pasti tadi dia sangat menikmati angin malam hingga tertidur.
"Hena.. Choi Hena ireona" aku memutuskan untuk membangunkannya. Kalau dia tidak makan, bisa-bisa dia sakit.
Badan mungilnya itu perlahan bergerak dan disusul dengan terbukanya kedua mata indahnya yang menenangkan itu. Hah, apa yang kupikirkan sebenarnya.
"Eoh.. Sehun-ah" itu kalimat pertamanya.
Aku hanya berdiri diam sambil melipat kedua tanganku di atas dada. Aku hanya tetap bersikap cool didepannya. Apa salah?
"Apa yang kau lakukan disini? Aku sudah membuatkanmu makan. Apa kau tidak menyukainya? Apa ingin kubuatkan yang lain?" perempuan ini benar-benar.. Dia bahkan belun makan dan ingin membuatkanku makanan lain?
"Ani. Mengapa kau tidur disini. Udaranya tidak baik" kataku masih dengan posisi seperti tadi.
"Ahh, aku ketiduran. Habis pemandangan disini sangat indah, dan anginnya mendukung" dia hanya menyeringai kecil dan tidak benari menatap mataku.
"Masuklah, dan makan di bawah denganku" setelah mengatakan itu aku langsung keluar meninggalkannya.
*Hena p.o.v*
"Masuklah, dan makan di bawah denganku" itu kalimat terakhirnya sebelum meninggalkan kamarku.
Mengapa dia bisa ada di kamarku? Apa yang dia lakukan? Apa dia sengaja masuk untuk membangunkanku karna melihatku belum makan? Ahh tidak, tidak mungkin. Apa yang aku pikirkan. Aku hanya terlalu berharap.
Aku segera turun menyusul Sehun ke ruang makan, takut-takut dia lama menunggu.. yak lagi-lagi aku terlalu berharap. Untuk apa dia menungguku. Sudahlah lupakan. Tapi, dia belum juga menyentuh makanannya. Apa dia benar-benar menungguku?
Aku cepat-cepat duduk di meja makan dengan makananku yang kubawa dari atas, takut kalau saja Sehun benar-benar menunggu. Aku sudah akan menyuap makananku saat tiba-tiba Sehun menghentikannya.
"Apa kau akan memakan itu?" tanya Sehun.
Aku hanya menatapnya sebagai jawaban 'iya'. Dia segera berdiri dan mengambil piring baru, lalu mengambilkan makanan yang baru untukku.
"Ige. Makan yang ini. Yang itu sudah dingin dan sudah berada diruang terbuka cukup lama" katanya sambil menyodorkan piring itu kedepanku dan mengambil makananku yang tadi.
"Ah ani, gwenchana. Sayang kalau ini dibua.."
"Besok eomma dan appa akan berkunjung kemari, mungkin menginap. Apa kau mau menyambut mereka dengan keadaan tidak sehat?" Sehun memotong kalimatku, masih dengan gayanya yang sok cool.
Tapi.. Eomeonim? Abeonim? Yak pastilah mereka akan menanyakan pertanyaan yang selalu aku maupun Sehun hindari. Apa lagi kalau bukan masalah cucu?!
"Ne akan kumakan yang ini" kataku setelah mendengar Sehun. Dan tanpa sadar bibirku sedang maju sekarang karna kesal Sehun tiba-tiba memotong kalimatku seenaknya.
*Sehun p.o.v*
"Ne akan kumakan yang ini" kata Hena setelah mendengarku. Dan dia tiba-tiba saja mempoutkan bibir mungilnya itu yang membuatku gemas. Aku tau dia kesal sekarang.
Setelah itu kami makan dalam diam, hanya saling menghabiskan makanan masing-masing. Setelah selesai makan, Hena segera bangkit dan mencuci piringnya dan piringku, sedangkan aku hanya duduk memperhatikannya dari belakang.
Entah apa yang kupikirkan, tiba-tiba saja aku berjalan ke arahnya dan memeluk pinggang kecilnya dari belakang. Dan dia terkejut dengan perlakuanku yang bisa dibilang sangat tiba-tiba. Kutopang daguku pada pundaknya, dan namanya keluar begitu saja dari mulutku, sangat pelan, seperti bisikan yang tepat kulontarkan ditelinganya. Dia merasa geli merasakan nafasku yang mengenai tengkuknya. Hah, aku tidak bisa menahan diriku sendiri.
Kubalikkan badannya menghadap kearahku. Dan tanpa ba-bi-bu kutempelkan bibirku pada bibir mungilnya. Perlahan mulai kulumat bibirnya yang terasa manis itu, dan lipgloss dengan rasa caramel itu membuatku tambah menikmati bibirnya. Awalnya dia tidak membalas dan hanya membiarkan bibirku memainkan bibirnya. Tapi lama kelamaan dia sedikit membalas ciumanku.
Dia memukul-mukul pelan dadaku dan aku mengerti, kadar oksigennya sudah benar-benar hampir habis. Dengan sangat terpaksa aku melepaskan ciuman kami. Dari reaksinya saat merasakan bibirku, bisa kutebak bahwa ini adalah..
"First Kiss?" tanyaku masih dengan nafas yang tidak teratur.
Dia hanya mengangguk dan pipinya sudah seperti kepiting rebus sekarang.
Astaga, apa ini benar-benar first kiss nya? Aku benar-benar beruntung.
••
*Author p.o.v*
Sehun memikirkan apa yang baru dia lakukan pada Hena.
"First kiss? Sepolos itukah Hena? Apa aku akan terus menyakitinya dengan berhubungan dengan Hyura? Tidak, ini harus di akhiri. Dia.. Ku rasa aku mulai mencintainya. Ya, aku harus mengakhiri hubunganku dengan Hyura" batin Sehun.
Sedangkan dikamarnya, Hena berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi terhadapnya dan Sehun. Dia mengutuk dirinya sendiri karna tidak ada perlawanan darinya sama sekali saat Sehun dengan tiba-tiba menciumnya.
"Aaahhh, ottoke? Bagai mana ini bisa terjadi? Mengapa tadi aku tidak melawan? Ah babo! Choi Hena kau benar-benar yeoja babo!" Hena terus mengutuk dirinya sendiri. Tapi dia tidak bisa berbohong. Dia senang, ani.. dia sangat senang karna Sehun tiba-tiba berubah tadi.
"Dia itu sebenarnya pria seperti apa? Sifatnya bisa berubah dengan cepat" gerutu Hena.
••
Paginya, Hena sudah rapih dengan seragam sekolahnya. Dia berdiri didepan cermin dan merapikan rambut panjang coklatnya yang digulung tinggi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang indah.
Dengan ragu dia melangkahkan kaki turun kelantai bawah. Dia takut akan melihat pemandangan yang sering dia lihat saat pagi, yaa Sehun dan Hyura. Tapi untunglah, dia tidak mendapati siapapun, termasuk Sehun.
Lima menit kemudian barulah Sehun turun dengan seragamnya yang juga sudah rapih. Mereka terlihat sangat canggung karna peristiwa tadi malam. Keduanya saling menghindari kontak mata. Mereka sarapan seperti biasa, dalam diam.
"Ehm" Sehun ber dehem membuat Hena dengan otomatis melihat ke arahnya.
"Berangkatlah denganku pagi ini" kata Sehun sangat pelan, Hena tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Hah? Aku tidak dapat mendengarmu dengan jelas"
"Emm, Berangkatlah denganku pagi ini " Sehun mengulang dengan suara yang sudah bisa didengar Hena sekarang.
"Bagaimana kalau ada yang melihat? Sebentar lagi kan kau akan comeback, dan aku juga tidak mau jadi buruan para fans fanatikmu" tolak Hena.
"Memang kenapa kalau mereka melihat kita? Kita kan suami istri, bukan pasangan gelap" jawab Sehun dengan enteng. Dan 'blush' pipi Hena kembali memerah mendengar kalimat Sehun
"Kita kan suami istri, bukan pasangan gelap" kata-kata Sehun terulang dikepala Hena. Dia menunduk malu.
"Yak, pipimu memerah lagi" ledek Sehun.
Keduanya belum berani mengakui bahwa mereka saling mencintai sekarang. Mereka terlalu menjaga image sehingga untuk menyatakan perasaan mereka sendiri, mereka sangat sungkan.
Hena menerima ajakan Sehun untuk berangkat sekolah bersama. Hitung-hitung untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi jujur saja, ada rasa takut di hati Hena. Takut, takut kalau saja sifat Sehun akan berubah seperti dulu. Takut kalau saja ternyata sekarang Sehun hanya mempermainkannya.
••
Didalam mobil, Sehun dan Hena hanya diam. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka hingga mereka tiba di sekolah.
*Hena p.o.v*
Aku berjalan beriringan dengan Sehun menuju kelas. Entah tatapan macam apa yang sekarang penghuni sekolah sedang tujukan padaku. Aku sendiri enggan mengartikannya.
"Yak, jangan terlalu dekat seperti ini. Lihat tatapan mereka padaku" bisikku pada Sehun.
Dia ternyata tidak menyadari situasi sekarang. Saat aku memberi tahunya, barulah dia celingak celinguk melihat sekeliling. Dia diam sejenak,
"Tidak usah perdulikan mereka" jawabnya.
"Kau sendiri ragu mengatakannya" kataku lalu meninggalkannya. Dan dia menyusulku lagi.
Aku dan Sehun sampai didepan kelas. Baru saja ingin masuk, tapi..
'Chuu'
Satu kecupan mendarat dibibir Sehun tepat didepan mataku. Perlu ku ulangi, SATU KECUPAN MENDARAT DIBIBIR SEHUN TEPAT DIDEPAN MATAKU. Siapa lagi yang berani melakukannya kalau bukan Hyura.
Bagai tersengat listrik, badanku lemas seketika. Apa yang mereka lakukan? Apa yang Sehun lakukan? Tidak, sebenarnya dia juga tidak menyangka akan mendapat serangan seperti itu. Tapi, dia juga terlihat menikmatinya dan itu membuatku geram.
"Apa yang kalian lakukan?" kata-kataku seakan menyadarkan Sehun. Dia lalu mendorong Hyura pelan untuk melepas ciuman mereka. Ini masih pagi dan, seharusnya aku yang memberi Sehun morning kiss, bukan jalang seperti Hyura. Ahh, yak! Apa yang kupikirkan.
Banyak yang menyaksikan drama pagi menjijikan ini. Untunglah mereka tidak tau kalau aku dan Sehun sudah menikah, kalau mereka sudah tau, mau ditaruh dimana mukaku ini?!
"Setidaknya jangan lakukan itu didepanku. Pigyeo!" aku sudah muak dan memutuskan untuk tidak mengikuti jam pertama. Untungnya kelas jam pertama hanya diisi oleh Kim saem, guru seni. Dan aku tidak tertarik sama sekali dengan seni.
"Hena.." Sehun menahan tanganku. Aku hanya menepis tangannya dan meninggalkan mereka berdua. Jangan lupakan, aku melihat senyum meledek di wajah Hyura. Dasar jalang.
••
Sekarang aku berada di atap sekolah. Sialnya tidak ada Kkamjong. Sepertinya tadi dia tidak melihat drama jijik itu. Dan lagi pula pelajaran seni adalah pelajaran favoritnya, jadi sekarang dia pasti tidak menyadari bahwa tidak ada aku dikelas.
Entah apa yang aku lakukan, tapi tak terasa jam istirahat sudah tiba. Itu berarti sudah 2 jam aku melakukan aktifitas bodoh sendirian disini.
"Hena-ya" kudengar suara Kkamjong memanggilku. Lama sekali dia.
"Kau lama sekali, aku seperti orang bodoh di sini selama 2 jam" gerutuku pada Kai.
"Kau memang bodoh. Kenapa membolos pelajaran seni? Sudah tau nilaimu sangat jelek dipelajaran itu, seharusnya kau memperdalamnya, bukan malah tidak ikut pelajaran seperti tadi" yayaya, sifat cerewetnya itu keluar lagi. Kalian tau? Dia sangat persis seperti oppa ku ketika marah.
"Yak! Mengapa kau marah? Aku tidak menunggumu untuk mendengarmu marah-marah seperti ini" jawabku kesal. Aku sangat benci moment saat Kai memarahiku seperti ini.
"Haish, mianhae Hena-ya. Aku tidak bermak.."
"Sudahlah, kau membuat moodku semakin turun" aku menekankan suaraku pada kata turun. Aku segera meninggalkannya. Tidak peduli dia sedang berteriak apa sekarang.
••
Tempat pelampiasan terbaik lain adalah kantin. Aku duduk mengaduk-aduk makanan didepanku tanpa selera. Sepertinya makanan itu sudah hampir hancur karna terus ku aduk. Kembali terbayang kejadian tadi pagi. Haish aku benar-benar bisa gila.
"Hena-ya" suara itu.. Siapa lagi, Oh Sehun. Untuk apa dia kesini. Aku sangat tidak minat berbicara dengannya maupun Kai sekarang.
Aku hanya diam tidak mempedulikannya. Aku bahkan tidak menoleh padanya. Kurasakan Sehun duduk disebelahku. Mwoya ige? Aku memang masih marah dengannya, tapi jantungku ini tidak bisa di ajak kompromi. Dia berdetak sangat kencang.
"Hena mianhae" namja ini... Apa yang dia lakukan? Bagaimana kalau Hyura tiba-tiba datang dan berbuat seperti tadi pagi? Aku yakin aku tidak akan bisa menahan emosiku lagi. Jaebal Oh Sehun jangan dekat-dekat denganku dulu.
Dan lagi... Tatapan orang-orang padaku? Aish jinjja! Aku sangat membenci tatapan mereka ini.
"Untuk apa minta maaf?" tanyaku singkat.
"Ituu.. Tadi pagi.."
"Tidak perlu minta maaf. Itu hak kalian"
*Sehun p.o.v*
Aku mencari Hena sejak bel berbunyi. Dan aku menemukannya sedang duduk sendirian dikantin. Aku menegurnya, tapi tidak ada jawaban. Dia mengacuhkanku seakan aku tidak di sana.
"Hena mianhae" aku duduk disebelahnya, ya tepat disebelahnya.
"Untuk apa minta maaf?" jawabnya.
"Ituu.. Tadi pagi.."
"Tidak perlu minta maaf. Itu hak kalian" belum selesai aku berbicara, dia memotong kalimatku. Aku benar-benar menyesal sekarang. Kenapa juga tadi aku ikut menikmati ciuman Hyura. Entah, mungkin karna bibirnya sudah sering memanjakan bibirku. Haahh aku bisa gila. Apa aku bisa dengan mudah melepas Hyura?
Belum selesai aku berbicara pada Hena, Kai datang. Dan sepertinya mereka juga sedang ada masalah.
"Hena-ya" panggil Kai. Entahlah, kalau melihat Kai dekat-dekat dengan Hena rasanya aku tidak suka. Aku tau mereka sahabat. Tapi apa persahabatan mereka tidak berlebihan? Aku bahkan sering melihat Hena bersandar dengan sangat nyaman dibahu Kai. Lagi pula, pria dan wanita tidak akan mungkin menjadi sahabat. Pasti akan ada rasa yang lebih nantinya.
Hena mengendus sebal melihat kedatangan Kai. Aku yakin mereka sedang bertengkar.
"Hena mianhae. Aku tidak bermaksud seperti tadi" kata Kai.
"Kalian berdua.. Jauh-jauh dari ku hari ini! Aku sedang muak dengan kalian" Hena yang sejak tadi banyak diam akhirnya buka suara. Tidak hanya buka suara, dia sedikit berteriak. Sedetik kemudian Hena pergi meninggalkan aku dan Kai berdua.
"Apa kau juga bertengkar dengannya?" aku bertanya dengan nada datar pada Kai.
"Ini semua gara-gara kau. Kalau saja kau tidak berciuman dengan Hyura tadi pagi, dia tidak akan bolos pelajaran. Kalau dia tidak bolos aku tidak akan membentaknya tadi pagi, kalau aku tidak membentaknya, kita tidak akan bertengkar. Minta maaf lah dengannya! Kalau tidak, aku tidak akan membiarkan dia ada didekatmu lagi" sugguh bukan ini yang kuharapkan.
••
*Author p.o.v*
~kringkring~
Bunyi yang ditunggu-tunggu sejak tadi akhirnya terdengar. Hyuri bangkit dari duduknya dan menggandeng Sehun mengajaknya pulang. Dan adegan itu kembali disaksikan Hena.
"Mianhae, aku akan pulang dengan Hena" kata Sehun dan menarik tangan Hena.
Kai hanya menyaksikan mereka.
"Aku hanya perlu mendiamkannya sampai dia tenang" kata Kai pelan.
"Yak lepaskan! Pulanglah dengan wanitamu itu" Hena memukul-mukul lengan Sehun yang terus menariknya.
"Yak Oh Sehun appo!" dia berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Sehun. Sehun yang sadar menyakiti Hena langasung melepaskan tangannya.
"Mian. Pulanglah denganku. Dan berhenti menyebut Hyura wanitaku. Wanitaku adalah kau" kata Sehun
'Blush'
Lagi-lagi hena mengutuk dirinya karna tidak bisa menahan pipinya agar tidak merona.
"Lagi pula kau ingat? Eomma dan appa akan datang ke apartement kita hari ini. Aku yakin mereka sudah di sana. Apa kau mau mereka melihat kita pulang masing-masing?" Sehun berusaha membujuk Hena agar pulang berdua dengannya.
Hena diam sejenak seperti sedang berpikir.
"Omo ottoke? Pakaianku? Barang-barangku? Semua ada di kamar tamu. Bagai mana ini Sehun-ah?" seperti lupa akan amarahnya dengan Sehun, Hena panik karna semua barang-barangnya berada di kamar yang akan digunakan oleh mertuanya.
"Yak, haish.. Mengapa baru ingat? Sekarang ini eomma dan aboji pasti sudah di apartement" Sehun juga tidak kalah heboh. Entah apa yang akan dikatakan orang tua mereka jika tau mereka tidur dalam kamar yang berbeda.
"Mana bisa aku mengingat semuanya" Hena tidak mau disalahkan.
"Lagian, kenapa juga kau tidur di kamar tamu bukannya di kamar utama bersamaku" kata Sehun.
"Kalau kau tidak sok dingin padaku, aku pasti tidak akan memilih kamar tamu. Salahkan dirimu sendiri"
"Haish, sudahlah ayo cepat kita pulang. Hadapi saja apa yang nanti akan mereka katakan" Sehun menggandeng Hena kedalam mobil.
••
Sehun dan Hena tiba di apartement. Keduanya sedang khawatir sekarang. Dengan sangat hati-hati Sehun memasukkan sandi apartement dan membuka pintu. Tapi sepertinya tidak ada siapa-siapa. Akhirnya mereka bernafas lega. Tiba-tiba ponsel Sehun berbunyi.
"Ne yoboseo eomma"
"..."
"Ah geurae, arraseo"
"..."
"Ne"
-
"Wae? Apa yang eomeonim katakan?"
"Eomma bilang mereka baru meninggalkan rumah 1 jam yang lalu. Berarti paling tidak akan sampai 3 jam lagi" jelas Sehun.
"Huh.. Untung saja. Kalau mereka sudah sampai sejak tadi, aku tidak tau harus menjelaskannya seperti apa" kata Hena. Dia sangat lega mendengarnya.
"Cepat bereskan barang-barangmu dan pindahkan kekamarku" Sehun menyadarkan Hena yang masih santai-santai.
"Bantu aku" Hena menunjukan wajah memelasnya. Dan itu membuat Sehun gemas.
*Sehun p.o.v*
"Cepat bereskan barang-barangmu dan pindahkan kekamarku" kataku saat melihatnya masih bisa bersantai. 3 jam bukan waktu lama untuk memindahkan barangnya yang segunung itu.
"Bantu aku" jawabnya sambil menunjukkan wajah memelasnya. Apa dia mencoba menggodaku sekarang? Wajahnya itu sangat.. Ah membuatku gemas.
"Haish kau ini, phaliwa" aku berjalan menuju kamarnya. Dia terlihat senyum saat aku mau membantunya. Senyumnya itu sangat manis sampai membuatku overdose.
-skip-
Hampir 2 jam aku dan Hena memindahkan barangnya ke kamarku. Untunglah kamar tamu dan kamar utama jaraknya tidak terlalu jauh, hanya bersebrangan.
"Yaa barangmu sangat banyak. Aku benar-benar lelah" keluhku.
"Mianhae Sehun-ah. Dan gumawo" katanya sambil membawakan jus ke arahku. Aku hanya diam menatapnya.
"Berlatihlah memanggilku oppa" tiba-tiba saja kalimat itu yang kukeluarkan. Yah kau pabo Oh Sehun!
"Mwo?"
"Apa kau akan memanggilku Oh Sehun didepan mertuamu? Makanya panggil aku oppa" ujarku mencari alasan. Aku kesal mendengarnya memanggilku Sehun, Oh Sehun, Sehun-ah, dia tidak pernah memanggilku oppa.
"Ne arraseo. Aku akan memanggilmu oppa. Tapi hanya selama ada mereka" jawabnya. Dan aku mengiyakan saja. Daripada dia menolak?
"Istirahatlah, aku akan membuat makan malam" dia lalu meninggalkanku.
Entah apa yang kupikirkan, hanya saja aku tidak mau berpisah dengannya. Aku ingin selalu didekatnya.
Aku mengikutinya turun ke dapur dan hanya menyaksikannya dari meja makan. Mengapa sekarang terkesan aku yang mengejarnya? Ah biarlah, mungkin balasan karna dulu aku membuatnya mengejarku dan aku hanya mengacuhkannya.
"Wae? Bukankah kau lelah? Tidurlah dulu, nanti kalau eomeoni dan aboji sampai aku akan membangunkanmu" katanya tanpa berbalik melihatku.
Aku hanya diam,
"Sehun-ah" dia berbalik menghadapku.
"Aku akan menemanimu disini. Lanjutkanlah memasak" aku menggerakkan tanganku menyuruhnya kembali berbalik.
••
*Hena p.o.v*
~tingnongtongnong~ (anggap suara bel)
Aku mendengar suara bel dan kuyakini itu adalah mertuaku. Cepat-cepat aku membukakan pintu dan menyuruhnya masuk.
"Aigoo, menantuku ini.. kau tambah cantik saja" eomeonim lalu memelukku.
"Dimana Sehun?" lanjutnya.
"Ah dia sedang mandi. Masuklah eomeonim, abeonim"
Aku menyusul Sehun yang masih mandi dikamar. Dia mandi seperti perempuan, sangat lama.
"Sehun-ah phaliwa. Mereka sudah tiba, aku juga ingin mandi" aku menggedor-gedor pintu kamar mandi, dan dia tiba-tiba keluar dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Aku baru pertama kali melihat badan namja tanpa ditutupi baju. Ah sial, mengapa dia melakukannya.
"Yak! Apa yang kau lakukan!" teriakku.
"Apa? Kau berisik sekali" protesnya.
"Mengapa keluar tidak memakai baju?" aku menutup mataku menggunakan kedua tangan. Aku yakin pipiku memerah sekarang.
"Haish, bagian bawah kan tertutup. Apa kau benar-benar tidak pernah melihat abs namja? Sudah buka matamu" dia menurunkan kedua tanganku. Tapi mataku masih kupejamkan rapat-rapat.
"Yeoja ini... Baiklah buka matamu. Aku sudah memakai baju" dan dengan hati-hati aku membuka mata. Benar, dia sudah memakai kaos oblong putih. Ahh, aku sangat suka melihat namja menggunakan kaos oblong putih.
"Emm, ce.. cepatlah keluar. Temani eomeonim dan abeonim" kataku gugup. Segera aku masuk kamar mandi.
*Sehun p.o.v*
Aku yakin bahwa Hena benar-benar yeoja baik-baik. Melihat abs ku saja dia takut. Reaksi itu bukan reaksi yang dibuat-buat. Aku benar-benar beruntung mendapat istri sepertinya. Mungkin, dia yang tidak beruntung mendapatkan aku.
-
Hena sudah selesai mandi dan sekarang kami ber empat sudah ada di meja makan. Kami makan dengan tenang hingga eomma membuat suasananya kacau.
"Kapan kalian akan memberikan eomma cucu?"
Bisa kulihat pipi Hena memerah lagi. Dia benar-benar sangat lucu.
"Jangan terburu-buru. Hena masih sekolah, kasihan dia kalau harus hamil sebelum lulus" sahut abeoji. Hena hanya senyum kecil mendengar eomma dan appa.
-
Makan malam sudah selesai. Eomma dan appa sudah meninggalkan ruang makan. Seperti biasa, Hena akan mencuci piring bekas makan. Dia sangat rajin, aku kadang kasihan melihatnya saat bersih-bersih. Aku ingin membantu, tapi kadang aku malah membuatnya semakin repot.
"Apa aku harus mencari pembantu?" tanyaku pada Hena yang masih fokus pada cucian piringnya.
"Ani, lalu apa gunanya aku sebagai istri? Setidaknya ini yang bisa kulakukan" jawabnya pelan.
Aku mendekat ke arahnya, lalu memeluk pinggangnya yang kecil itu.
"Mwo?" dia terkejut karna lagi-lagi aku memeluknya dengan tiba-tiba.
"Eomma sedang mengintip sekarang" bisikku.
-
Lagi-lagi aku dan Hena saling mengacuhkan karna kejadian tadi. Bukannya apa, hanya merasa canggung. Dan lagi malam ini, untuk pertama kalinya kita akan tidur dalam kasur yang sama. Sial! Apa aku akan bisa mengontrol diri?
Aku hanya memperhatikan Hena yang sedang sibuk menggunakan cream malam dan.. entahlah sangat banyak alat make up yang dia gunakan. Bukannya membersihkan, dia malah menggunakannya sebelum tidur. Bukankah itu merusak wajah? Dasar wanita.
Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi, yaa saat Hyura menciumku didepan Hena, dan aku bodohnya aku menikmatinya. Aku merasa bersalah, baru saja hubungan kita membaik sekitar 25%, dan aku merusaknya. Aku benar-benar harus memutuskan hubungan dengan Hyura dan bersungguh-sungguh menjalin hubunganku dengan Hena. Kalau dipikir-pikir, Hena jauh lebih baik dari Hyura. Hyura hanya lebih baik dalam satu hal, apa lagi kalu bukan, ehm ya.. kontak fisik?
'Hena-ya" panggilku pelan, tapi aku yakin dia bisa mendengarku.
"Hmm" dia tidak berbalik, hanya melihatku dari pantulan kaca.
"Aku ingin berbicara" kataku sambil menatap matanya yang melihatku melalui kaca itu.
"Bicaralah" jawabnya singkat.
"Tapi jangan kau potong. Tunggu hingga aku selesai eoh?"
"Ne"
Aku menarik nafas dalam-dalam, dan mulai mengutarakan perasaanku padanya. Terserah apa reaksinya nanti yang jelas aku sudah mengutarakannya. Meskipun aku tidak yakin bahwa sekarang dia masih menyukaiku atau tidak.
*Hena p.o.v*
"Aku ingin berbicara" kata Sehun sambil menatap mataku melalui kaca. Sangat canggung, aku benci saat-saat canggung seperti ini. Detak jantungku kembali tidak bisa di ajak kompromi.
"Bicaralah" kataku da sebisa mungkin berusaha bersikap seperti biasa.
"Masalah tadi pagi.. Aku ingin minta maaf. Aku tau aku sudah salah karna membiarkan wanita lain menciumku. Dan bodohnya aku,, aku menikmati itu" kau memang bodoh! Aku juga tau kalau kau menikmatinya, arghh rasanya aku ingin menyudahi pembicaraan ini. Tapi aku sudah berjanji tidak memotong omongannya.
"Aku berjanji tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Dan aku akan menyudahi hubunganku dengannya, jadi..." jadi??? Mengapa berhenti.
"Aku mohon, maafkan aku. Aku memang bodoh karna menyia-nyiakanmu selama ini. Dan aku memang tidak pantas di anggap suami yang baik. Selama hampir 3 bulan ini aku hanya bisa membuatmu sakit. Maafkan aku Hena-ya, aku mencintaimu"
Deg!
Aku dari tadi hanya diam mendengarkan. Tapi entah kenapa, kalimat terakhirnya itu sangat menancap. Apa dia benar mencintaiku? Atau dia hanya mempermainkanku sekarang? Tanpa sadar, air mata yang selama ini kutahan, meluncur begitu saja dihadapannya. Segera kutundukkan kepalaku agar dia tidak melihat air mataku.
Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh puncak kepalaku. Yaa, Sehun sekarang sudah berada di sebelahku.
"Mengapa kau menangis? Apa aku mengatakan hal yang salah? Tolong jangan menangis seperti ini. Maafkan aku" sekarang dia berjongkok dan membalikkan badanku menghadap ke arahnya.
Aku hanya terus menangis dan tidak mengatakan apa-apa.
"Mianhae" sekarang aku sudah berada dalam pelukannya. Perlahan tangisku mereda. Entah kenapa aku sangat merasa nyaman saat dalam pelukan Sehun.
"Se.. Sehun-ah" aku sudah tidak menangis lagi, tapi masih terisak.
"Hmm" jawabnya masih dengan memelukku.
"Apa.. Kau benar-benar serius.. Mencintaiku?" aku sangat butuh kepastiannya. Aku takut dia hanya mempermainkanku.
Perlahan dia melepaskan pelukannya, menggenggam kedua tanganku dan menatap mataku.
"Aku sangat serius. Aku sangat mencintaimu. Maaf karna terus membuatmu sakit selama ini. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya"
Lagi-lagi aku hanya bisa menunduk.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" lanjutnya.
"Ani, aku masih mencintaimu" aku menjawab dengan malu-malu. Bisa kurasakan pipiku memanas.
"Kau benar-benar membuatku gemas" Sehun lalu mencium singkat pipiku. Haish dasar.. Bibirnya itukan..
"Yak! Siapa bilang kau boleh menciumku" aku berdiri dan menjauhkan badan darinya beberapa centi.
"Kenapa? Bukankah kita sudah baikan?" jawabnya polos. Wajahnya itu...
"Dan karna itu kau berani menciumku menggunakan bibir yang telah disentuh perempuan lain?" aku membalikkan badan untuk membelakanginya.
"Oh jadi karna itu. Yaa, kau benar-benar cute Choi Hena! Ani.. Oh Hena" dia membalik badanku kembali menghadap kearahnya.
"Kalau begitu hapuslah" dia mendekatkan wajahnya denganku.
"Yak! Apa yang kau.. Mpph"
Dan bibirnya sudah menempel sempurna dengan bibirku. Aku dapat merasakan lumatan halus yang dia berikan. Lama kelamaan ciumannya semakin dalam, dan tanpa sadar aku membalas lumatannya.
Ciuman ini lebih lama dari pada ciuman pertama. Dan sialnya kadar oksigenku lagi-lagi harus menjadi penghalang. Sehun yang sadar akhirnya melepaskan ciuman kita dengan terpaksa.
"Woah! Lihat pipimu itu! Sudah seperti tomat" Sehun menusuk-nusuk pelan pipiku yang memang sudah semerah tomat-.-
"Yaa hentikan" kataku.
"Ahh, sudah malam. Kajja kita tidur" Sehun menggandengku ke tempat tidur. Aku benar-benar gugup. Ini pertama kalinya aku tidur dengan pria selain dengan oppaku, itupun sudah sangat lama, saat aku masih kelas 2 SD.
Sehun menutup sebagian badanku dengan selimut, lalu mengecup singkat dahiku. Benar-benar tidak pernah kubayangkan aku dan Sehun bisa seperti ini.
"Jaljayo" itu kata-kata terakhirnya sebelum dia terlelap sambil memelukku.
••
TBC!
Ckckck.
Gimana? Gajelas yak? Mianhae, ini ff pertama saya :'D
Sebenarnya rencana awal mau dibuat oneshoot saja, tapi kayanya masih banyak tokoh yang belum muncul, jadi di buat Twoshoot aja yaa~
Kalo ada yang comment buat ngelanjutin sih ya saya lanjut. Tapi kalau gk ada yaaaa gimana?
Tinggalin jejak yaa :'D :* :* :* :*